6 Tokoh Politik Kemerdekaan Tanah Air

berita politik

Politik bukanlah hal baru di negara demokrasi seperti Indonesia ini. Terbukti, dari zaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang, ada begitu banyak tokoh politik yang tak hanya tersohor di dalam negeri saja, namun juga di luar negeri. Terkhusus di saat kemerdekaan baru menjadi angan hingga akhirnya terwujud, 6 tokoh politik tersohor berikut ini kerap kali menghiasi berita politik di Indonesia. 

1. Ir. Soekarno

Ir. Soekarno yang lahir di Surabaya tanggal 6 Juni 1901, merupakan tokoh politik tersohor tanah air yang juga didaulat menjadi Bapak Proklamator Indonesia. Karisma yang dimiliki oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama ini, menjadikannya tak hanya disegani di dalam negeri, namun juga di luar negeri. 

Kiprah politik Ir. Soekarno mulai bergaung saat ia menjadi anggota Jong Java, tepatnya di tahun 1915 silam. Berangkat dari Jong Java inilah, ia kemudian mendirikan sendiri partai politiknya dengan nama Partai Nasional Indonesia atau lebih dikenal dengan nama PNI. PNI mulai berdiri sejak tanggal 4 Juli 1927, di mana sejak saat itu, Ir. Soekarno mulai aktif menjalankan gerakannya.  

Bukan hal yang mudah bagi Ir. Soekarno menjalankan aktivitasnya. Ia pernah ditangkap, dipenjarakan, hingga diasingkan. Terbilang di tahun 1929, ia ditangkap oleh pihak Belanda, lalu kemudian dipenjarakan di Bandung. Dari Bandung, ia kemudian dipindahkan ke Sukamiskin di tahun 1930, hingga kemudian ia dibebaskan tahun 1931 karena pledoinya yang dinamai Indonesia Menggugat. 

Berulang kali dipenjarakan dan diasingkan tak membuat Ir. Soekarno berhenti untuk bergerak di bidang politik, demi kemerdekaan Indonesia. Terbukti dari partisipasinya sebagai anggota banyak organisasi penting seperti Putera, BPUPKI, dan juga PPKI. Terbukti dengan peran aktifnya di organisasi ini, kemerdekaan Indonesia pun bisa diproklamirkan di tanggal 17 Agustus 1945. 

2. Mohammad Hatta

Mohammad Hatta yang terlahir di Bukittingi, 12 Agustus 1902, merupakan tokoh politik ternama sekaligus Wakil Presiden pertama Indonesia. Pembahasan mengenai politik mulai diperoleh oleh Hatta, tatkala ia kerap mendengarkan ceramah politik yang disampaikan oleh tokoh lokal di tempat kelahirannya. Namun, baru pada saat masuk kuliahlah, Hatta memulai kiprah politiknya. 

Mohammad Hatta menuntut ilmu sebagai mahasiswa di Handels Hogeschool. Pada saat jadi mahasiswa inilah, Mohammad Hatta memilih untuk bergabung dengan Indische Vereeniging, sebuah organisasi sosial yang telah berdiri di tahun 1908. Pada tahun 1923, Mohammad Hatta dipercaya sebagai bendahara organisasi ini, serta mengurus majalah yang bernama Hindia Putera. 

Organisasi sosial yang semula bernama Indische Vereeniging akhirnya berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia di tahun 1924. Mohammad Hatta yang semula hanya menjadi bendahara, akhirnya diangkat menjadi ketua di tahun 1926. Mulai dari awal kepemimpinannya inilah hingga tahun 1931, PI mulai memusatkan perhatian khusus pada pergerakan yang ada di Indonesia. 

Sama dengan Ir. Soekarno, pengasingan dan pengurungan di penjara merupakan hal yang tak asing juga bagi Mohammad Hatta. Pada tahun 1934, ia ditangkap oleh Belanda dan kemudian di buang ke Digul kemudian ke Banda Neira. Pada masa pembuangannya ini, Mohammad Hatta banyak menghabiskan waktunya membaca, menulis, dan juga bercocok tanam.  

Pada saat kekuasaan atas Indonesia dipegang oleh Jepang, pihak Jepang pun merayu Mohammad Hatta untuk bekerja sama. Kerja sama tersebut kemudian ditolaknya, di mana ia lebih memilih menjadi seorang penasihat. Pekerjaannya yang semula diharapkan Jepang dapat memberikan saran yang menguntungkan untuk Jepang, malah dimanfaatkannya untuk membela kepentingan rakyat. 

Pada tahun 1945, Mohammad Hatta beserta dengan 8 tokoh pergerakan nasional Indonesia lainnya, tergabung sebagai Panitia Sembilan yang dibentuk oleh BPUPKI. Lalu, di tahun yang sama, PPKI pun dibentuk dengan menunjuk Mohammad Hatta sebagai wakil ketuanya. Berselang hanya beberapa hari sejak PPKI ini dibentuk, proklamasi Indonesia pun akhirnya diumumkan. 

3. Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir merupakan tokoh politik Indonesia yang lahir di Padang Panjang, pada tanggal 5 Maret 1909. Namanya memang kerap menghiasi berita politik, sebagai tokoh politik handal di era sebelum hingga sesudah kemerdekaan diproklamirkan. Sutan Sjahrir memulai kiprah politiknya di usia yang terbilang begitu muda, yakni saat usia 18 tahun. 

Pada saat umurnya masih 18 tahun, perdana menteri pertama Indonesia ini mendirikan klub diskusi politik untuk para pemuda di Bandung yang disebut Patriae Scientiaque. Saat berkecimpung di klub diskusi inilah, ia dipertemukan dengan Ir. Soekarno. Pertemuannya dengan Ir. Soekarno inilah yang kemudian mengantarkannya sebagai salah seorang pengurus PNI, partai yang didirikan Ir. Soekarno. 

Saat bergabung di PNI, Sutan Sjahrir mengemban tugas sebagai pengurus Jong Indonesien. Pada saat tergabung sebagai pengurus di PNI inilah, Sutan Sjahrir terlibat dalam pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia II, yang dikenal sebagai momentum lahirnya Sumpah Pemuda. Sutan Sjahrir pun juga pernah bergabung dengan PI di bawah pimpinan Hatta, walau akhirnya keluar dari sana. 

Sutan Sjahrir merupakan salah satu tokoh yang begitu kerap mendesak Ir. Soekarno beserta tokoh besar lainnya, untuk mengumumkan menyatakan kemerdekaan saat Jepang mengalami kekalahan. Segala bentuk lobi dan desakan tersebut akhirnya berakhir sesuai harapannya, dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

4. Haji Agus Salim 

Haji Agus Salim yang lahir di Koto Gadang pada 8 Oktober 1884 merupakan salah satu tokoh politik paling disegani di tanah air. Ia yang lahir dengan nama Masyhudul Haq ini juga dikenal sebagai diplomat ulung, yang menguasai hingga 9 bahasa, di antara Belanda, Inggris, dan Arab. Haji Agus Salim juga pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia yang ke-3. 

Pada tahun 1915, Haji Agus Salim memulai karir politiknya dengan bergabung dengan Sarekat Islam. Pada saat itu, ia berperan sebagai pemimpin yang ke-2 setelah H.O.S Tjokroaminoto. Sarekat Indonesia sendiri dikenal sebagai organisasi yang kerap menyurakan kemerdekaan nasional dan juga perbaikan atas nasib pribumi. 

Pada saat tergabung dengan Sarekat Islam inilah, Haji Agus Salim ditunjuk sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat di masa pemerintahan Hindia Belanda. Karier politik Haji Agus Salim di Sarekat Islam terhenti di tahun 1936, di mana kemudian ia membentuk gerakan politik yang dinamakan Penjadar setahun pasca keluar dari SI. 

Dalam mempersipakan kemerdekaan, Haji Agus Salim tergabung sebagai salah satu dari Panitia Sembilan yang dibentuk oleh BPUPKI. Bersama dengan anggota Panitia Sembilan lainnya, ia bertugas mempersiapkan UUD 1945. Hingga pada akhirnya kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, Haji Agus Salim diangkat menjadi Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II. 

5. Mohammad Yamin

Mohammad Yamin merupakan tokoh politik nasional sekaligus pejuang kemerdekaan yang lahir di Sawahlunto, pada 24 Agustus 1903. Kiprahnya di dunia politik dimulai saat ia masih berstatus sebagai seorang mahasiswa di Jakarta, di mana saat itu di tergabung dalam organisasi Jong Sumatranen Bond. Pada saat itu, ia ikut menyusun ikrar suci Sumpah Pemuda. 

Mohammad Yamin juga pernah tercatat sebagai anggota Partindo. Tatkala Partindo dibubarkan, ia kemudian mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia bersama dengan Kapau Gani dan Amir Sjarifoeddin. Pada tahun 1939, Mohammad Yani pun diangkat sebagai anggota Volksraad, Dewan Rakyat di Pemerintahan Hindia Belanda. 

Pada masa pendudukan Jepang, mulai dari tahun 1942 hingga 1945, Mohammad Yamin bekerja untuk Putera. Ia pun tergabung sebagai anggota BPUPKI, bersama dengan tokoh besar lainnya seperti Ir. Soekarno dan Hatta. Mohammad Yamin merupakan salah satu dari 3 tokoh yang merumuskan Pancasila.  

6. Ki Hadjar Dewantara 

Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh nasional yang lahir di Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889.Walaupun lebih dikenal sebagai seorang tokoh di bidang pendidikan, nyatanya Ki Hadjar Dewantara juga aktif di dunia politik. Buktinya, 10 tahun sebelum ia mendirikan sekolah Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara sudah mendirikan Indische Partij di tahun 1912 dengan 2 sahabatnya. 

Saat berkarir di dunia politik, Ki Hajar Dewantara kerap kali membuat tulisan yang membuat berang pihak kolonial. Salah satu artikel tulisannya yang memancing kemarahan pihak kolonial adalah artikel berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda yang terbit di tahun 1913. Akibatnya Ki Hajar Dewantara pun sempat mengalami pembuangan hingga tahun 1919. 

Karir politik ini dipertahankan oleh Ki Hajar Dewantara hingga akhirnya sang istri, Raden Ayu Sutartinah jatuh sakit. Ia pun akhirnya memilih berjuang di jalur pendidikan, dengan mendirikan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Dedikasinya di bidang pendidikan ini, mengantarkan Ki Hajar Dewantara sebagai Menteri Pendidikan pertama di Indonesia. 

Jika berbicara mengenai berita politik di era sebelum hingga sesudah kemerdekaan, pasti tak akan terlepas dari 6 tokoh politik kenamaan di atas. Peran para tokoh ini pada saat itu, merupakan salah satu alasan mengapa Indonesia bisa jadi merdeka seperti sekarang. Sikapnya sebagai politikus, layak menjadi panutan saat kamu sekiranya terjun ke dunia politik kelak.