Cappuccino Terakhir

cappuccino terakhir
Add caption
Bau cappuccino menyeruak memenuhi indera penciuman. Mengalahkan bau tanah basah di luar sana akibat hujan ringan yang tinggal menyisakan gerimis manja. Awan hitam bagai tak berdaya. Sebentar saja ia menyelubungi langit, lekas matahari menyembul, membuatnya pecah dan menghilang. Kedai di pinggir jalan itu terlihat sepi. Hanya ada Rini dan sahabatnya Yuda, serta dua orang perempuan yang tak banyak bicara.
“Crtt..” bunyi cangkir keramik yang ditarik dari piring di bawahnya mengurangi kesunyian di antara mereka. Yuda menyeruput cappuccino yang berasap. Rini menatap lelaki itu sekilas. Entahlah, semakin hari kecanggungan semakin menggantung diantara mereka.
“Hujannya sudah benar-benar reda sekarang,” Yuda mencoba mencairkan suasana.
“Eemh,” gumam Rini diiringi anggukan kecil.
“Bagaimana kabar Mama?”
“Alhamdulillah sehat. Mama menanyakan tentang kamu. Akhir-akhir ini kamu jarang main ke rumah,” hari ini Rini memutuskan untuk mengatakan segalanya kepada Yuda.
“Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk mengurus kuliah di luar kota,” sahut Yuda sembari menyeruput minuman yang terbuat dari espresso dan susu itu sampai hanya tersisa setengah. Sedangkan Rini tak tergugah sedikitpun dengan minuman kesukaan mereka tersebut. Dibiarkannya asapnya terbang begitu saja, dingin.
“Sampaikan maafku kepada Mama. Dua hari lagi aku pasti kesana kok,” Yuda tersenyum di akhir kalimatnya. Senyuman getir yang lebih mirip dengan senyuman menahan tangis. Perasaan Rini campur aduk, tak karuan. Rini meraih cangkir yang sedari tadi diacuhkannya.
“Aaa,” jeritnya. Cappuccino itu tumpah akibat tangannya yang gemetar. Berleleran di sela-sela jari tangannya. Sampai ada yang melewati meja dan menetes ke rok panjangnya.
“Rini, makanya hati-hati.” Yuda menyerahkan segumpal tisu untuk Rini sambil membenarkan letak cangkir dan piring kecil. Keningnya berkerut menandakan kekhawatiran.
“Yuda,” Rini menatapnya sekilas. Entah mengapa ia sangat panik dengan kejadian kecil itu.
“Panas ya?”
“Nggak, cappuccino-nya sudah dingin.”
“Kamu jangan suka ceroboh. Kalau itu tadi air panas gimana?”
“Yuda, katakan semuanya!” tiba-tiba suara Rini meninggi. Tak tahan lagi rasanya ia melihat Yuda terus seperti itu.
“Rini kamu kenapa? Apa maksudmu?”
“Yuda, kenapa kamu terus saja memendam semuanya? Sampai kapan?”
“Memendam apa? Kamu ini kenapa?”
“Bukankah kamu mencintaiku? Sejak dulu kamu sudah menyukaikukan?” Rona pipi Rini memerah. Tak menyangka ia akan sanggup mengatakan hal itu di hadapan Yuda. Rini menunduk seakan menyesali perbuatannya.
“Bodohnya aku sampai-sampai semua itu terlihat olehmu Rin,” sahut Yuda sembari menundukkan kepala juga. Teringat bahwa selama ini dengan rapi Yuda mencoba menyimpan semua rahasia hatinya itu.
“Kamu memang bodoh. Kenapa kamu tidak mengatakannya? Aku juga mencintaimu,” tegas Rin. Rini sudah tidak tahan memendam perasaan ini dan melihat Yuda betah menyembunyikan segenap rasanya. Rini semakin tertunduk, tak berani sedikitpun ia memandang lelaki yang berada di hadapannya itu.
“Rin, aku sangat mencintaimu, tapi aku tahu ada yang lebih mencintaimu daripada aku. Dia telah membuktikannya.”
“Tapi kamu yang selalu ada dalam do’aku, bukan dia,” sahut Rini dengan gegabah. Repleks ia mengangkat wajahnya.
“Dia mungkin bukan orang yang selalu ada di dalam do’amu. Tapi kamulah orang yang selalu ada dalam setiap do’anya,” sahut Yuda dengan mantap. Ia kemudian beranjak pergi, membayar minuman mereka di kasir lalu berjalan cepat melewati pintu kedai. Ia berlari menerobos rintik.
***
Rini berjalan gontai. Kedua kakinya diayunkannya sembarang. Kejadian itu benar-benar membuatnya tak berdaya. Jarak dari depan pagar sampai pintu rumahku terasa jauh sekali.
“Rini,” lelaki berperawakan tinggi dan besar itu menyapa dan menatap Rini dengan penuh senyum. Lelaki itu senang bukan main melihat orang yang telah ditunggunya berjam-jam akhirnya datang. Rini membalas senyumannya.
“Dua hari lagi Yuda akan kesini, membawa kado besar dan turut merayakan pesta perkawinanku dengan Juna, lelaki yang selalu menyebut namaku dalam do’anya,” batin Rini.
***
Yuda masih berjalan dengan setengah berlari. Rambut tebalnya basah akibat gerimis ringan. Matanya berkabut. Ia tak menyangka Rini akan menguak semua perasaannya. Ia pun sama sekali tak menyangka bahwa Rini akan menikah secepat itu. Ingin rasanya ia berlari ke rumah Rini, melarang perjodohan dan pernikahan itu lalu melamar Rini. Namun, Yuda tak kuasa. Tak ada sedikit pun kesiapan batinnya untuk menikah.
Bertemu Rini, melihat sosok perempuan itu bagaikan teriris sembilu bagi Yuda. Ingin sekali ia mampu bersikap biasa, datang ke perkawinan itu tanpa merasa sakit hati. Namun, lagi-lagi ia tak kuasa. Sejak hari itu Yuda memutuskan untuk pergi menghindari Rini sejauh mungkin.
***
3 tahun kemudian
Kota kecil di bawah pegunungan itu masih saja diselimuti awan hitam. Sama seperti dulu. Tak banyak yang berubah, hanya saja penduduknya lebih banyak, dan banyak rumah-rumah baru bergaya modern.
Seorang pria menelusuri trotoar jalan. Sesekali ujung sendalnya basah akibat genangan air sehabis hujan tadi. Tujuannya hanya satu, kedai kopi langganannya dulu. Tak berapa lama pria tinggi dan berhidung mancung itu tiba di tempat tujuannya. Diantara bangunan lain yang rata-rata telah mengalami renovasi, kedai ini kebalikannya. Tak ada yang berubah sedikitpun dengan kedai itu, selain tampak lebih tua.
“Kring,” lonceng kecil berbunyi ketika Yuda memasuki kedai itu. Pak tua yang gemuk tersenyum hangat kepada pelanggannya.
Seperti biasa, Yuda memesan secangkir cappuccino lalu memilih duduk di samping jendela kaca sehingga ia bisa leluasa melihat orang di luar. Sudah lama sekali Yuda tidak menikmati minuman istimewa itu. Baginya, cappuccino yang asli hanya ada di kedai itu.
“Ini cappuccino-nya Nak,” ucap lelaki tua itu membuyarkan lamunan Yuda.
“Terima kasih Pak.”
“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya ya Nak?” Pak Tua mengerutkan keningnya mencoba mengingat.
“Ah, mungkin perasaan saya saja,” ucap Pak Tua itu lagi. Yuda hanya tersenyum, paham akan masalah orang tua, pelupa.
“Kring,” lonceng berbunyi lagi, pertanda ada pelanggan lain. Seorang wanita mengenakan gamis panjang dan khimar panjang bercorak bunga-bunga kecil. Jalannya begitu anggun, sangat tidak asing lagi bagi Yuda. Hanya dengan melihat bayangnya saja Yuda bisa langsung mengenalinya.
Perempuan itu memesan secangkir cappuccino lalu segera beranjak memilih tempat duduk di samping jendela. Langkahnya terhenti, matanya bertemu dengan mata seorang lelaki. Lelaki dengan sorot mata teduh, lelaki yang selalu dirindukannya. Lama dua insan itu mematung seakan berusaha berbicara dari hati ke hati. Air bening bak kristal luruh melewati pipi dan dagu Rini.
“Rini, jangan menangis,” Yuda mendadak panik. Ia beranjak dari kursinya dan berusaha menggapai Rini, hendak menyeka air matanya. Namun tangannya kaku, ia tak akan menyentuh perempuan yang tidak halal untuknya. Hatinya bergemuruh, turut merasakan perih.
“Kamu kemana saja Yuda?”
“Maafkan aku Rin, aku memang pengecut yang hanya bisa lari.”
“Lari dari apa?”
“Waktu itu aku tidak sanggup melihatmu dengannya.”
“Kamu salah Yud, Ak,”
“Yuda,” kalimat Rini terpotong oleh sepotong suara merdu. Perempuan berlari kecil ke arah Yuda dengan senyum mengambang. Yuda menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah lebar.
“Rini, kenalkan ini istriku Tina. Tina ini sahabatku Rini.” ucap Yuda mencoba memperkenalkan mereka berdua.
Tak sempat Rini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tak sempat ia ceritakan kepada Yuda tentang begaimana ia berusaha menolak perjodohan tiga tahun silam. Belum ia katakan tentang seberapa setianya ia menanti Yuda dan tentang cintanya yang tak pernah sirna.
Setelah mengobrol sebentar, Rini pamit pulang. Ia berjalan gontai di pinggir jalan. Sendi-sendinya seakan lemah. Matanya kembali berkabut dan berair. Cinta pertama dan satu-satunya itu kini harus ia kubur dalam-dalam. Bukan Juna, bukan pula Yuda, entahlah. Yang pasti, Allah telah mempersiapkan lelaki yang tepat untuknya.
***